KONSEP EKOLOGI HEWAN PADA HUBUNGAN KOMENSALISME
Di alam semesta ini terdapat jutaan jenis spesies makhluk hidup . dari sekian banyak satuan hidup tersebut tak ada satu pun yang dapat hidup mandiri tanpa berinteraksi dengan organism lain . Dengan kata lain diantara komponen biotic dalam komunitas tersebut senantiasa terjadi interaksi antai individu sejenis maupun diantara individu lain populasi .
Bentuk interaksi diantara individu lain jenis dapat berupa :
a. Mutualisma
b. Kompetisi
c. Predasi
d. Parasitisme
e. Komensalisme
Bila sesuatu organism memperoleh keuntungan dengan hidup bersama pada atau di dalam organisme lain dan tanpa menimbulkan bahaya atau keuntungan pada pihak kedua dikenal dengan komensalisme .
Pada beberapa kasus keduanya secara terus menerus berasosiasi antara satu dan lainnya seperti sejenis tertentu “ barnacle “ yang menempel hanya pada paus , kepiting yang hidup secara teratur dalam tube beberapa cacing annelid dan echiurid dan kepiting kepiting yang diam dalam ruang mantel dari kerang laut . Dengan yang lainnya asosiasi itu tidak terus menerus seperti remora yang menempel dengan penghisap dorsalnya terhadap beberapa ikan lain untuk berpindah ikan yang terlindung dalam kloasi mentimun laut , burung hantu teratai dari Amerika Barat Daya yang beristirahat dan bersarang dalam lubang yang dibuat oleh burung lain , burung gilded flicker di dalam kaktus sahuaro.
KOMENSALISME UDANG DAN MENTIMUN LAUT
Habitat
- Udang adalah merupakan organisme yang mengambil keuntunagan dari yang pasangannya pada hubungan simbiotik. Meski bukan parasit, tidak ada untungya ditunggangi udang di punggungnya. Pembonceng-pembonceng ini dapat ditemui di atas makhluk-makhluk yang lebih besar dan bergerak lebih cepat termasuk nudibranchs dan ketimun laut (sea cucumber). Mereka menggantung dan memunguti sisa-sisa makanan ketika tunggangan mereka bergerak di dalam laut.
Jumlah species timun laut diperkirakan sekitar 1100, kawasan Indo-Barat saja terdapat kurang lebih 300 species.
Di perairan Malaysia terdapat lebih dari 43 jenis timun laut, dan 36 daripadanya mendiami kawasan air pasang surut (litoral negeri Sabah.
Penyebaran dan kepadatan species ber ubah-ubah menurut keadaan topography suatu tempat,
Di perairan Malaysia terdapat lebih dari 43 jenis timun laut, dan 36 daripadanya mendiami kawasan air pasang surut (litoral negeri Sabah.
Penyebaran dan kepadatan species ber ubah-ubah menurut keadaan topography suatu tempat,
habitat maupun keadaan lingkungan sepert suhu (29 – 30C) kadar oxygen (7.3 – 7.5 mg/L), kadar garam atau salinitas air (29 – 31 ppt) dan pH air laut (7.3 – 7.5).Hewan invertebrate laut ini dapat ditemukan didaerah pasang surut hingga kedalaman 8000 m ke dasar laut.
Kebanyakan timun laut dikawasan tropika adalah dari golongan Aspidokirodita.
Pada umumnya diperairan Malaysia timun laut dan GAMAT hidup pada kedalaman air kurang dari 20 meter.
Pada kedalaman ini terumbu karang masih hidup selama mereka mendapat sinar matahari.
Timun laut seperti juga GAMAT (keluarga Stichopus) bergerak perlahan pada dasar laut dengan bantuan kaki-kaki yang menyerupai tabung.
Tingkah-laku hewan ini ber beda-beda bergantung pada jenisnya,
Sebagian ada yang membenamkan dirinya per lahan-lahan kedalam pasir atau Lumpur, sebagian lagi merayap pada celah- celah batu, cabang-cabang karang hidup dan mati, permukaan pasir halus, Lumpur berpasir, berlindung dibalik rumpun-rumpun algae, rumput laut dan rumbai laut seperti Sargassum dan Pudina. Contohnya:
Gamat Stichopus Hermanii mendiami kawasan karang hidup jenis tanduk rusa (Staghorn, Acrophora), sementara Actinopyga. Echinites berhabitat di kawasan berpasir halus dan batu-batuan yang kaya akan rumbai laut yang mungkin dimanfaatkan sebagai pelindung sekaligus sumber makanan.
Gamat Stichopus berteduh dan berlindung dibawah karang pada siang hari.
Itulah sebabnya perburuan Gamat di pulau Langkawi secara tidak ter kendali dapat membahayakan kelestarian alam karang serta habitat kehidupan laut disebabkan oleh pembalikan karang-karang oleh pemburu teripang.Sementara PERBURUAN Gamat di daerah Sabah dilakukan pada malam hari, ini disebabkan karena hewan-hewan ini justru keluar pada saat petang dan sekaligus mencegah kerusakan karang akibat pembongkaran selama perburuan dan memakan waktu puluhan tahun untuk pemulihan.
Timun laut di kawasan pasang surut tropika dibagi menjadi dua golongan (order), yaitu;
-OrderDendrokirotida
-OrderAspidokirotida
Timun laut Order Dendrokirotida mengembangkan tentacle (belalai belalai kecil) dendritic, Organisma kecil melekat pada tentacle dan kemudian disapunya masuk kedalam mulut.
Selain dari itu, timun laut tersebut menyedot pasir halus bercampur Lumpur oganic yang kaya gizi.
Cara makan seperti ini dikenal dengan sebutan: “deposit feeder” atau “pemakan endapan”.
Timun laut Order Aspidokirotida merupakan hewan pemakan endapan menggunakan tentacle nya yang berbentuk peltat untuk menelan pasir, phytoplankton, detritus, diatom, foraminifera, algae, rumbai laut serta bahan organic yang kemungkinan merupakan sumber makanan timun laut.
Kadang kala dalam lumen usus nya dijumpai duri landak laut ataupun siput laut.
Kebanyakan timun laut dikawasan tropika adalah dari golongan Aspidokirodita.
Pada umumnya diperairan Malaysia timun laut dan GAMAT hidup pada kedalaman air kurang dari 20 meter.
Pada kedalaman ini terumbu karang masih hidup selama mereka mendapat sinar matahari.
Timun laut seperti juga GAMAT (keluarga Stichopus) bergerak perlahan pada dasar laut dengan bantuan kaki-kaki yang menyerupai tabung.
Tingkah-laku hewan ini ber beda-beda bergantung pada jenisnya,
Sebagian ada yang membenamkan dirinya per lahan-lahan kedalam pasir atau Lumpur, sebagian lagi merayap pada celah- celah batu, cabang-cabang karang hidup dan mati, permukaan pasir halus, Lumpur berpasir, berlindung dibalik rumpun-rumpun algae, rumput laut dan rumbai laut seperti Sargassum dan Pudina. Contohnya:
Gamat Stichopus Hermanii mendiami kawasan karang hidup jenis tanduk rusa (Staghorn, Acrophora), sementara Actinopyga. Echinites berhabitat di kawasan berpasir halus dan batu-batuan yang kaya akan rumbai laut yang mungkin dimanfaatkan sebagai pelindung sekaligus sumber makanan.
Gamat Stichopus berteduh dan berlindung dibawah karang pada siang hari.
Itulah sebabnya perburuan Gamat di pulau Langkawi secara tidak ter kendali dapat membahayakan kelestarian alam karang serta habitat kehidupan laut disebabkan oleh pembalikan karang-karang oleh pemburu teripang.Sementara PERBURUAN Gamat di daerah Sabah dilakukan pada malam hari, ini disebabkan karena hewan-hewan ini justru keluar pada saat petang dan sekaligus mencegah kerusakan karang akibat pembongkaran selama perburuan dan memakan waktu puluhan tahun untuk pemulihan.
Timun laut di kawasan pasang surut tropika dibagi menjadi dua golongan (order), yaitu;
-OrderDendrokirotida
-OrderAspidokirotida
Timun laut Order Dendrokirotida mengembangkan tentacle (belalai belalai kecil) dendritic, Organisma kecil melekat pada tentacle dan kemudian disapunya masuk kedalam mulut.
Selain dari itu, timun laut tersebut menyedot pasir halus bercampur Lumpur oganic yang kaya gizi.
Cara makan seperti ini dikenal dengan sebutan: “deposit feeder” atau “pemakan endapan”.
Timun laut Order Aspidokirotida merupakan hewan pemakan endapan menggunakan tentacle nya yang berbentuk peltat untuk menelan pasir, phytoplankton, detritus, diatom, foraminifera, algae, rumbai laut serta bahan organic yang kemungkinan merupakan sumber makanan timun laut.
Kadang kala dalam lumen usus nya dijumpai duri landak laut ataupun siput laut.
Beberapa manfaat dari berbagai bentuk interaksi yang terjadi baik antar individu maupun antar populasi yang digunakan sebagai bagian upaya pengelolaan lingkungan hidup diantaranya :
a. Keterbatasan daya dukung suatu areal pertanian , kolam yang akan mendorong para petani untuk meningkatkan produktivitasnya secara optimal
b. Terjadinya interaksi antar populasi akan memberikan dampak terwujudnya keseimbangan alam peningkatan populasi adalah satu jenis akan mengganggu pertumbuhan jenis lainnya.
c. Adanya populasi suatu spesies yang menjadi pemangsa populasi spesies yang dimangsa / dapat menjadi pembatas
d. Adanya interaksi memungkinkan terjadinya suksesi dan komunitas klimaks pada sustu ekosistem

Tidak ada komentar:
Posting Komentar